gratefuldoggies.net – Hainan gibbon (Nomascus hainanus), atau dikenal sebagai gibbon berkepala hitam Hainan, adalah spesies gibbon endemik Pulau Hainan, Tiongkok, dan diakui sebagai primata terlangka di dunia. Dengan bulu hitam mengkilap pada jantan dewasa dan bulu keemasan pada betina, gibbon ini hidup di kanopi hutan tropis, berayun lincah (brachiation) antar pohon, serta terkenal dengan “nyanyian” duet pagi hari yang indah untuk menandai wilayah dan memperkuat ikatan pasangan. Mereka hidup dalam kelompok keluarga kecil (monogami), memakan buah-buahan, daun, dan bunga, serta berperan penting dalam penyebaran biji hutan.

Sejarah Penurunan dan Status Terkini

Pada 1950-an, populasi Hainan gibbon mencapai sekitar 2.000 ekor, tersebar luas di Pulau Hainan. Namun, deforestasi masif untuk perkebunan karet, penebangan liar, dan perburuan menyebabkan penurunan drastis. Pada 1980-an, hanya tersisa kurang dari 10 ekor, dan pada awal 2000-an, hanya 13 ekor di dua kelompok. Kini, berkat upaya konservasi intensif di Hainan Tropical Rainforest National Park (khususnya Bawangling National Nature Reserve), populasi telah meningkat menjadi sekitar 42 ekor dalam tujuh kelompok keluarga pada akhir 2024 – rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Meski demikian, spesies ini masih berstatus Critically Endangered menurut IUCN, dengan risiko tinggi karena populasi kecil, inbreeding, dan fragmentasi habitat.

Habitat dan Ancaman Utama

Hainan gibbon hanya bertahan di hutan hujan tropis primer dan sekunder di Bawangling, area seluas sekitar 15-16 km². Habitat ideal mereka adalah hutan dataran rendah yang kaya buah, tapi sebagian besar telah hilang (95% vegetasi asli Hainan rusak). Ancaman utama:

  • Kehilangan habitat: Deforestasi untuk pertanian dan pembangunan.
  • Fragmentasi: Longsor dan jalan memisahkan kelompok, menghambat dispersi dan perkawinan.
  • Populasi kecil: Rentan terhadap bencana alam, penyakit, dan kurangnya keragaman genetik.
  • Perburuan historis: Meski kini jarang, masih menjadi risiko.

Nyanyian duet mereka menjadi indikator kesehatan populasi, karena membantu pemantauan akustik.

Upaya Konservasi yang Membuahkan Hasil

Keberhasilan pemulihan Hainan gibbon adalah cerita sukses konservasi Tiongkok:

  • Pendirian Hainan Tropical Rainforest National Park (2019) sebagai flagship species.
  • Patroli hutan ketat, larangan penebangan, dan pendidikan masyarakat lokal.
  • Restorasi habitat: Penanaman pohon makanan favorit, pemasangan jembatan tali buatan untuk menghubungkan fragmen hutan (pertama kali digunakan oleh gibbon pada 2020).
  • Teknologi modern: Pemantauan akustik AI, kamera trap (rencana 4.000-5.000 kamera pada 2025), dan pengenalan wajah untuk individu.
  • Kolaborasi internasional: ZSL, Kadoorie Farm and Botanic Garden, Fauna & Flora International, dan Huawei (untuk monitoring digital).

Populasi tumbuh dari 29 ekor (2018) menjadi 42 ekor (2024), dengan kelahiran rutin meski siklus reproduksi lambat (setiap 2-3 tahun).

Harapan Masa Depan

Meski masih rapuh, Hainan gibbon membuktikan bahwa konservasi intensif bisa membalikkan kepunahan. Fokus selanjutnya adalah memperluas habitat, meningkatkan konektivitas, dan memastikan keragaman genetik. Spesies ini bukan hanya simbol biodiversitas Hainan, tapi juga pengingat bahwa aksi cepat manusia bisa menyelamatkan keajaiban alam. Dukung konservasi melalui organisasi seperti ZSL atau donasi untuk taman nasional Hainan!

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *