Gorila Gunung, Primata Terbesar yang Terancam Punah di Afrika

gratefuldoggies.net – Gorila gunung (Gorilla beringei beringei) adalah salah satu subspesies gorila timur yang menjadi primata terbesar di dunia. Hidup di hutan pegunungan Afrika Tengah, gorila gunung terkenal karena bulu tebalnya yang membantu mereka bertahan di suhu dingin pegunungan serta sifatnya yang lembut meskipun bertubuh besar. Meski populasinya perlahan meningkat berkat upaya konservasi, gorila gunung tetap terancam punah menurut Daftar Merah IUCN.

Karakteristik Gorila Gunung

Gorila gunung adalah primata herbivor yang hidup berkelompok, dipimpin oleh jantan dominan yang disebut silverback karena bulu abu-abu di punggungnya. Berikut adalah beberapa ciri utama:

  • Ukuran dan Berat: Jantan silverback memiliki berat rata-rata 180 kg dan tinggi 170 cm saat merangkak, sedangkan betina berbobot sekitar 90 kg dengan tinggi 150 cm.

  • Bulu: Bulu mereka lebih tebal dan panjang dibandingkan gorila dataran rendah, membantu mereka bertahan di suhu pegunungan yang sering turun di bawah titik beku.

  • Kemiripan dengan Manusia: Gorila gunung memiliki kemiripan DNA hingga 98% dengan manusia, menjadikannya salah satu kerabat terdekat manusia setelah cimpanzi. Mereka juga cerdas, mampu menggunakan alat sederhana dan mempelajari bahasa isyarat.

  • Reproduksi: Betina hamil selama 9 bulan dan biasanya melahirkan satu bayi setiap 4–6 tahun, dengan hanya 3–4 anak sepanjang hidupnya. Bayi gorila menunggangi punggung induknya hingga usia 3 tahun dan menjadi dewasa pada usia 7–10 tahun.

Habitat dan Populasi

Gorila gunung hanya ditemukan di dua wilayah terisolasi di Afrika Tengah:

  • Pegunungan Virunga: Meliputi tiga taman nasional, yaitu Taman Nasional Mgahinga (Uganda), Taman Nasional Volcanoes (Rwanda), dan Taman Nasional Virunga (Republik Demokratik Kongo).

  • Taman Nasional Bwindi Impenetrable: Terletak di Uganda, beberapa primatolog menduga gorila di sini mungkin merupakan subspesies terpisah, meskipun klasifikasi belum selesai.

Menurut survei terbaru, populasi gorila gunung meningkat dari 680 ekor pada 2008 menjadi sekitar 1.063 ekor pada 2023, dengan 604 ekor di Virunga Massif dan sisanya di Bwindi. Meski demikian, mereka tetap bergantung pada upaya konservasi karena ancaman yang terus berlanjut.

Ancaman terhadap Gorila Gunung

Meskipun populasinya meningkat, gorila gunung menghadapi sejumlah ancaman serius:

  1. Kehilangan Habitat: Perambahan manusia untuk pertanian, kayu bakar, dan ternak mengurangi habitat alami gorila, memaksa mereka ke ketinggian yang lebih dingin dan berbahaya.

  2. Perburuan dan Perangkap: Perangkap yang dipasang untuk hewan kecil sering kali melukai gorila secara tidak sengaja. Perburuan untuk daging atau trofi juga menjadi ancaman.

  3. Penyakit: Gorila rentan terhadap penyakit manusia seperti flu atau Covid-19 karena kemiripan genetik. Tingkat reproduksi yang rendah membuat dampak penyakit sangat signifikan.

  4. Konflik Bersenjata: Perang saudara di Republik Demokratik Kongo dan Rwanda selama 1990-an menyebabkan kerusakan habitat dan menyulitkan upaya konservasi. Milisi bersenjata masih mengancam wilayah Virunga, dengan 220 penjaga taman tewas sejak 1925.

Upaya Konservasi

Keberhasilan konservasi gorila gunung adalah salah satu kisah sukses di dunia konservasi. Beberapa inisiatif utama meliputi:

  • International Gorilla Conservation Programme (IGCP): Koalisi antara WWF, Conservation International, dan Fauna & Flora International yang fokus pada perlindungan habitat dan patroli anti-perburuan.

  • Pusat Senkwekwe: Fasilitas di Taman Nasional Virunga yang merawat gorila gunung yatim piatu, satu-satunya di dunia untuk spesies ini.

  • Kwita Izina: Upacara pemberian nama bayi gorila di Rwanda yang meningkatkan kesadaran global dan mendukung pariwisata berbasis konservasi.

  • Patroli Penjaga Taman: Penjaga taman mempertaruhkan nyawa untuk membersihkan perangkap dan melindungi gorila dari milisi bersenjata.

  • Pariwisata Terkontrol: Wisata trekking gorila di Rwanda dan Uganda menghasilkan pendapatan untuk konservasi, dengan izin pelacakan yang ketat untuk meminimalkan gangguan.

Berkat upaya ini, status gorila gunung berubah dari “Sangat Terancam Punah” pada 1996 menjadi “Terancam” pada 2018 menurut IUCN.

Fakta Menarik tentang Gorila Gunung

  1. Hidup Berkelompok: Kelompok gorila terdiri dari 5–50 individu, dipimpin oleh silverback yang melindungi keluarga dari ancaman. Ketika dewasa, sebagian besar jantan dan 60% betina meninggalkan kelompok untuk mencegah perkawinan sedarah.

  2. Diet Herbivor: Gorila gunung menghabiskan seperempat waktunya untuk makan, mengonsumsi hingga 40 kg daun, batang, pucuk, dan buah setiap hari.

  3. Tidak Suka Memanjat: Karena berat badannya, gorila gunung dewasa jarang memanjat pohon, tidak seperti gorila muda yang masih lincah.

  4. Sifat Lembut: Meskipun digambarkan sebagai hewan buas dalam film seperti King Kong, gorila gunung sebenarnya cinta damai dan jarang agresif terhadap manusia.

  5. Tidak Hidup di Penangkaran: Tidak ada gorila gunung yang bertahan lama di kebun binatang karena kebutuhan diet spesifik (142 jenis tumbuhan) dan kerentanan terhadap stres. Upaya penangkaran di masa lalu, seperti di Kebun Binatang Cologne pada 1969, berakhir tragis.

Mengapa Gorila Gunung Penting?

Gorila gunung adalah bagian dari warisan alam Afrika yang unik, hanya ditemukan di Rwanda, Uganda, dan Republik Demokratik Kongo. Keberadaan mereka mendukung ekosistem hutan pegunungan, karena mereka membantu menyebarkan benih melalui pola makan mereka. Selain itu, pariwisata gorila menyumbang pendapatan signifikan bagi komunitas lokal, mendorong perlindungan hutan dan pembangunan ekonomi. Keberhasilan konservasi gorila gunung juga menjadi inspirasi bagi upaya pelestarian spesies lain di seluruh dunia.

Tantangan di Masa Depan

Meskipun populasinya meningkat, gorila gunung tetap rentan. Perubahan iklim, konflik bersenjata, dan tekanan dari ekspansi manusia terus mengancam habitat mereka. Konservasi jangka panjang membutuhkan kerja sama internasional, pendanaan berkelanjutan, dan keterlibatan masyarakat lokal untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini.

Gorila gunung adalah simbol ketahanan dan keberhasilan konservasi di tengah ancaman besar seperti kehilangan habitat, perburuan, dan konflik bersenjata. Dengan bulu tebal, sifat lembut, dan kehidupan keluarga yang mirip manusia, primata ini memikat hati banyak orang. Upaya konservasi seperti IGCP dan pariwisata terkontrol telah membawa harapan, meningkatkan populasi dari 680 menjadi lebih dari 1.000 ekor dalam satu dekade. Namun, perlindungan terus-menerus diperlukan untuk memastikan gorila gunung tidak menghilang dari muka bumi. Mengunjungi taman nasional seperti Virunga atau Bwindi untuk trekking gorila, atau mendukung organisasi konservasi, adalah cara untuk ikut melestarikan primata megah ini bagi generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *